Home Agama Viral, Biksu Disuruh Menandatangani Surat Pernyataan

Viral, Biksu Disuruh Menandatangani Surat Pernyataan

SHARE
article top ad

TANGERANG, MB – Penolakan oleh sekelompok masyarakat terhadap kegiatan sosial kembali terjadi dengan alasan menyebarkan agama.  Kali ini berita viral kembali beredar luas di tengah media sosial.  Kelompok yang menamakan diri Front Pembela Islam (FPI) meminta seorang Biksu menandatangani sebuah surat yang intinya menolak kehadiran Biksu di Desa Babat, Tangerang yang dianggap akan mensyi’arkan Agama Budha atau mengajak orang untuk masuk ke agama Budha.

Termasuk menolak segala macam kegiatan keagamaan serta perkumpulan umat Budha di kediaman Mulyanto Nurhalim yang juga Biksu/Bhante Alih.  Biksu tersebut “dipaksa” menandatangani sebuah surat pernyataan akibat tuduhan di atas, padahal kegiatan yang bersangkutan bukanlah seperti yang dituduhkan FPI.

article inline ad

Akibat dari video ini pejabat pemerintah,  kepolisan, Danramil, tokoh agama dan tokoh masyarakat melakukan koordinasi agar masalah ini tidak menimbulkan keresahan yang lebih luas.

Dalam kesempatan tersebut Sekcam Legok, Syarif Hidayat telah meminta penjelasan kepada Biksu dan meminta agar tempat tinggal tidak digunakan sebagai tempat ibadah.

Sementara Kades Babat, Sukron Ma’mun menambahkan sejak dulu tidak ada masalah dengan toleransi.  Kami sangat toleransi sekali dengan pemeluk agama lain, baik itu Nasrani, Budha maupun Khonghucu, kami hidup rukun sesama bahkan ada 2 RT di Desa kami ketua RT nya berasal dari turunan Cina.

Sedangkan wakil pemuka agama Budha Romo Kartika mengakui bahwa rekan-rekan biksu ini masih terlalu muda sehingga kurang pengalaman.  “Ini pengalaman untuk kami memang perlu adanya silaturahmi dengan lingkungan sehingga kami sebagai tamu di lingkungan Desa Babat perlu silaturahmi dengan masyarakat, dengan tokoh agama, dengan perangkat Desa maupun Muspika,” katanya.

Dijelaskan bahwa di tempat tersebut sama sekali tidak akan dibangun tempat Ibadah (Vihara atau kelengteng) dan tidak ada kegiatan ibadah.

Adapun kegiatan pada hari Minggu, sebagaimana dituduhkan itu, menurutnya karena ada tamu dari luar.  “Itu bukanlah kegiatan ibadah, hanya datang memberi bekal makan dan Biksu sekedar mendoakan mereka yang telah datang,” paparnya.

Di Indonesia ini biksu telah disumpah dengan 227  peraturan.  “Salah  satu larangan adalah melepas jubah Biksu dimanapun Biksu berada. Membatasi jam makan dan tidur, dll,” lanjutnya.

Sedangkan Ketua MUI Legok, KH. Odji Madroji, khawatir jika tempat Biksu Mulyanto Nurhalim di Desa Babat dan kecurigaan masyarakat, tempat tsb dijadikan tempat syi’ar umat Budha.  Tapi jika jelas itu hanya tempat tinggal bukan sebagai tempat Ibadah, menurut kami tidak ada masalah dan masyarakat Babat sangat akan bisa menerima.

Pada akhirnya, Camat Legok Nurhalim menganggap masalah ini sudah jelas dan hanya terjadi salah pengertian. “Jadi kalau hanya dijadikan tempat tinggal maka masyarakat Desa Babat tidak keberatan kalau memang ingin ibadah jangan disitu silahkan ibadah mencari vihara.  Jika ada kegiatan tolong diinformasikan, dikoordinasikan dg aparat setempat, tokoh sekitar dan pihak keamanan sehingga masyarakat tidak curiga,” katanya.

Ketua Ranting FPI Desa Babat, Haer pada akhirnya meminta maaf atas perlakuan warga yang dipimpinnya ke kediaman Biksu Bante Alih dan selanjutnya meminta agar permasalahan tidak dibesar besarkan dan meminta tanda bahwa pertemuan hari ini adalah tanda selesainya permasalahan.

article bottom ad