Home Politika Saksi Kunci Korupsi E-KTP Ini Sebut Punya Rekaman Pembicaraan 500 Giga

Saksi Kunci Korupsi E-KTP Ini Sebut Punya Rekaman Pembicaraan 500 Giga

SHARE
article top ad

Jakarta, Mediabhayangkara.co.id – Persidangan tuntutan kasus korupsi e-KTP dengan tersangka Irman dan Sugiharto memunculkan nama Johannes Marliem sebagai saksi kunci. Nama Johannes Marliem disebut sampai 25 kali oleh jaksa KPK.

Johannes Marliem disebut aktif dalam pertemuan membahas proyek kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP) sejak awal. Tapi ia belum pernah dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan perkara itu.

article inline ad

Johannes Marliem meninggalkan Indonesia begitu proyek ini ditengarai bermasalah, kemudian heboh menjadi kasus korupsi e-KTP. Sejak itu, ia tinggal di Singapura dan Amerika Serikat.

Berdasar kesaksian Irman dan Sugiharto, saksi penting dalam skandal megakorupsi itu ternyata mengantongi bukti pembicaraan dengan para perancang proyek Rp 5,9 triliun itu. Salah satunya, rekaman pertemuannya dengan Setya Novanto, Ketua Umum Partai Golkar yang kini menjadi Ketua DPR. Setya Novanto sendiri Senin, 17 Juli 2017 baru ditetapkan sebagai tersangka korupsi e-KTP.

Marliem muncul ketika KPK menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka. Ia mengklaim memiliki rekaman selama empat tahun pertemuan membahas proyek pengadaan e-KTP tersebut.

Marliem pada Selasa 18 Juli 2017 mengaku berada di Amerika Serikat ketika dikontak wartawan Koran TEMPO. Ia mengaku memiliki seluruh rekaman pertemuan yang ia ikuti dalam membahas proyek megaskandal itu.

Rekaman itu dibuat di setiap pertemuan, selama empat tahun lamanya. Ia menyakini, rekaman yang disebutkan total berukuran 500 giga bita itu bisa menjadi bukti buat menelisik korupsi yang merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun tersebut.

“Rekaman selama empat tahun” kata Marliem seperti dilansir dari laman Tempo.

Johannes Marliem sendiri adalah Direktur Biomorf Lone LLC, Amerika Serikat, perusahaan penyedia layanan teknologi biometrik yang menjadi penyedia produk sistem perekaman sidik jari bermerek L-1. Menurut jaksa, ia beberapa kali bertemu dengan pengusaha Andi Agustinus atau lebih dikenal dengan sebutan Andi Narogong.

Pada rentang Mei hingga Juni 2010, Marliem mengaku menjadi salah seorang peserta ketika Andi Narogong mengumpulkan petinggi perusahaan anggota konsorsium dan perusahaan vendor di Ruko Fatmawati, Jakarta Selatan.

Pada Oktober 2010, Marliem bertemu dengan Irman, Sugiharto, Diah Anggraini, Andi Agustinus, Husni Fahmi, dan Chairuman Harahap di Restoran Peacock Hotel Sultan, Jakarta. Kemudian, pada akhir 2010, Marliem bertemu dengan Andi Narogong dan Irman, yang mengarahkan agar proyek e-KTP dimenangi konsorsium Percetakan Negara RI. Marliem menangani teknologi konsorsium ini.

Johannes Marliem pada 2011 menyerahkan US$ 20 ribu kepada Sugiharto melalui seorang pegawai Kementerian Dalam Negeri untuk biaya menyewa pengacara Hotma Sitompoel. Ketika itu, konsorsium yang kalah menggugat Kementerian Dalam Negeri.

Adapun menurut Komisi Pemberantasan Korupsi, Agustinus merupakan kepanjangan tangan Setya dalam perencanaan, pembahasan anggaran, dan pengadaan barang proyek e-KTP.

Marliem mengatakan dua kali penyidik komisi antikorupsi meminta keterangan. Pemeriksaan pertama dilakukan di Singapura pada Februari 2017 dan yang berikutnya di Amerika Serikat pada bulan ini. Menurut dia, pemeriksaan di Amerika bahkan dihadiri dua pejabat selevel direktur.

Sementara saat dimintai konfirmasi tentang pernyataan Marliem soal kasus korupsi e-KTP, Setya Novanto mengatakan tidak tahu. Ia menyatakan tidak mengenal dan tidak pernah bertemu dengan Marliem. “Enggak kenal saya,” katanya. (Mlk)

article bottom ad