Home Nusantara MUI: Tiga Pondok Pesantren di NTB Ajarkan Paham Radikal

MUI: Tiga Pondok Pesantren di NTB Ajarkan Paham Radikal

SHARE
DEKLARASI TOLAK RADIKALISME
article top ad

Lombok, Mediabhayangkara.co.id – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nusa Tenggara Barat, Saiful Muslim mengatakan, ada tiga pondok pesantren di NTB yang dianggap menyebarkan ajaran radikal yang mengarah ke aksi teror. Bertopeng kegiatan keagamaan, teroris menyebarkan paham radikal di tempat-tempat tersebut.

“Di Lombok ada terindikasi pondok pesantren radikal tapi tidak mengarah ke teror. Yang langsung mengarah ke teror ada di Bima dan Dompu,” ujar Saiful di kantor MUI NTB, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin 12 Juni 2017, seperti dikutip dari Tempo.co.

article inline ad

Ketiga pesantren itu menurutnya menerapkan sejumlah kegiatan semi militer kepada para santri. Namun, polisi tidak bisa langsung menindak karena belum ada bukti aksi yang dilakukan.

Untuk menangkal paham radikal itu, Polda NTB, MUI, TNI, hingga intelijen provinsi kerap turun langsung ke pondok pesantren tersebut untuk mencari tahu permasalahannya.

Saiful mengatakan, pendekatan lembut merupakan cara terbaik agar diterima oleh mereka. “Supaya tidak ada terus permusuhan antara kami. Waktu pertama sekali, masih susah menerima kami. Kemarin kami datang diterima dengan baik. Perubahannya luar biasa,” kata Saiful.

Untuk diketahui, pemerintah NTB dan polisi sebelumnya menutup satu pondok pesantren karena dipercaya menyebarkan paham radikal yang berujung ke arah terorisme.

Nama pesantren itu adalah Umar Bin Khatab di Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pesantren yang dipimpin oleh Abrori ini melakukan kegiatan semi militer dan pimpinannya mendoktrin para santri untuk berjihad.

Pemahaman jihad yang mereka terapkan yakni menegakkan syariat islam dengan melawan pemerintah yang dianggap toghut (tak taat pada Tuhan).

Pada Juli 2011, terjadi ledakan bom di pondok pesantren tersebut. Dari informasi intelijen, sumber ledakan dari bom uji coba yang dirakit para tokoh agama dan santri di pesantren tersebut untuk menyerang polsek terdekat.

Selain itu, salah satu santri pondok pesantren itu yang merupakan anggota kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), membunuh polisi.

Ia termakan doktrin pengurus pondok pesantren yang menyatakan bahwa mereka dimata-matai polisi dan polisi adalah bagian dari pemerintah yang kafir.

“Di UBK mengajak bukan pelajaran agama, tapi pemahaman jihad menurut mereka. Membunuh orang. Dan setiap orang diluar mereka adalah kafir dan harus dibunuh,” kata Saiful.

Dalam rangka mengantisipasi kondisi serupa, ia merasa perlu adanya program kontra radikal terhadap pondok pesantren yang dicurigai menyebarkan paham radikal.

Polda NTB yang melibatkan pihak terkait serta tokoh agama dan tokoh masyarakat mulai memberikan pemahaman mengenai sejarah Indonesia, bagaimana pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan.

Para santri juga diberi pemahaman soal Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang mengajarkan toleransi dengan umat agama lain.

Kapolda Nusa Tenggara Barat Brigjen Pol Firli mengatakan, pihaknya mencari tahu titik-titik di mana penyebaran islam radikal dilakukan. Setelah itu, mereka datang ke tempat tersebut untuk melihat kegiatannya.

“Pendekatan pertama, soft approach. Sangat lembut. Lakukan sosialisasi bagaimana kita bisa memiliki kesadaran pemahaman berdasarkan Pancasila, NKRI, UUD 45, dan harus hormati bahwa Indonesia hidup damai satu dan kokoh dalam bingkai kebinekaan,” kata Firli. (Mlk)

article bottom ad