Home Liputan Utama Polisi Tangkap House Keeping ‘Pembawa Pesan Damai’, Si Peretas Situs Dewan Pers

Polisi Tangkap House Keeping ‘Pembawa Pesan Damai’, Si Peretas Situs Dewan Pers

SHARE
article top ad

Jakarta, Mediabhayangkara.co.id – Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim menangkap pria berinisial AS (28) setelah ia terbukti meretas situs dewan pers. Berdasar pengakuannya, sekitar 100 situs termasuk milik pemerintah universitas, dan situs dari luar negeri pernah diretas.

“Tadi malam, kita melakukan penangkapan yang mendeface web dewan pers,” kata Kasubdit II Dit Tipidkor Bareskrim, Kombes Himawan Bayu Aji, di kantornya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat 9 Juni 2017.

article inline ad

AS ditangkap di Hotel Griya Surya, Kamis pukul 22.30 WIB kemarin. AS diketahui bekerja sebagai house keeping di hotel tersebut. AS telah melakukan aksi ini sejak 2013. Selama itu, dia meretas 100 situs termasuk milik pemerintah.

Dalam aksinya, dia mengaku juga memberikan beragam pesan.

Tidak ada keuntungan ekonomi dari aksinya meretas web-web tersebut. AS hanya mencari kepuasan batin setelah ia meretas satu situs.

“Kepuasan batin aja. Nggak ada keuntungan ekonomi, sama sekali enggak,” kata AS, di kantor Dit Tipidkor Bareskrim, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat hari ini.

Saat meretas situs dewan pers, dia memberi pesan tentang persatuan. “Kalau dewan pers, memberi pesan tentang keresahan apa yang diributkan saja,” katanya.

Kasubdit II Dit Tipidkor Bareskrim Polri, Kombes Himawan Bayu Aji pun memperlihatkan screenshoot web dewan pers yang diretas. Pada situs itu tertulis: “Tolong hentikan semua perpecahan ini, tuan…Negaraku bukan negara satu agama atau milik kelompok perusak adat budaya, juga bukan milik satu golongan…”

AS pun menceritakan, ia sempat meretas situs milik pemerintah Samarinda saat terjadi teror bom di sebuah gereja. Dia hanya mengganti penampilan dari web tersebut dan memberikan ucapan duka. “Emang untuk menunjukkan pesan tertentu. Kalau Samarinda waktu itu, untuk pesan berduka,” ucapnya.

AS mengatakan, situs pemerintah memiliki beberapa kelemahan. Dan AS melakukan aksi peretasan itu untuk memberi tahu letak kelemahan dari web pemerintah tersebut.

“Banyak yang bermasalah dengan CMS-nya (Content Management System), masih banyak yang bisa di-inject. Servernya masih banyak yang mudah down kalau diserang,” jelas AS.

AS belajar meretas situs secara otodidak. Saat beraksi, dia menggunakan identitas MD2404 atau pengemiselektronik@gmail.com.

Dari tangan AS, polisi menyita beberapa barang bukti seperti KTP, notebook, dan modem. “Kita kenakan Pasal 50 UU nomor 36 tahun 1999, UU 19 2016 Pasal 32 tentang Ilegal Akses,” pungkasnya.

Atas aksinya, AS dijerat dengan pasal 50 UU nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi dan UU 19 2016 pasal 32 tentang ilegal akses. (Hend)

article bottom ad