Home Asia Posisi Dilematis Negara Muslim Non-Arab Setelah Qatar Dikucilkan, Indonesia?

Posisi Dilematis Negara Muslim Non-Arab Setelah Qatar Dikucilkan, Indonesia?

SHARE
article top ad

Jakarta, Mediabhayangkara.co.id – Negara-negara muslim non-Arab, dilaporkan ikut terjebak dalam perseteruan di Teluk Persia antara Arab Saudi dan Qatar.

Pengucilan yang dilakukan negara-negara Arab terhadap Qatar di kawasan Teluk itu menempatkan negara-negara muslim non-Arab dalam posisi pelik.

article inline ad

Malaysia dan Pakistan harus memihak. Kedua negara itu menghadapi dilema terbesar menyusul kedekatan kedua negara dengan Riyadh dan Doha.

Pada Februari lalu, Malaysia menerima kedatangan Raja Salman yang menandai kunjungan Kerajaan Arab Saudi pertama sejak lebih dari satu dasawarsa. Sebulan berselang Kuala Lumpur menandatangani kerja sama pertahanan dengan Qatar.

Seorang sumber di pemerintah Malaysia mengatakan, upaya Kuala Lumpur memperkuat hubungan dengan Qatar, termasuk kunjungan menteri luar negeri bulan lalu, akan menjadi bumerang.

“Kami mengambil risiko terlalu besar dengan mendukung Qatar,” ujarnya kepada kantor berita Reuters.

James Dorsey, pengamat senior di S Rajaratnam School of International Studies, Singapura mengatakan, perseteruan diplomatik antara Qatar dengan lima negara Arab diyakini merupakan manuver tidak langsung untuk mengisolasi Iran dan menempatkan negara muslim non Arab dalam posisi yang tidak nyaman.

Sementara itu sejauh ini Indonesia berusaha bersikap netral. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Selasa 6 Juni 2017, mendapat telepon dari Menlu Iran Mohammad Javad Zarif untuk membahas krisis di Teluk.

Jakarta lalu menyerukan rekonsiliasi dan dialog untuk meredakan ketegangan.

Sementara Pakistan yang memiliki hubungan erat dengan Riyadh juga tidak ingin memancing amarah Iran atau Qatar.

Pakistan tahun lalu menandatangani perjanjian dagang dengan Qatar untuk mengimpor 3,75 juta ton gas alam cair.

Sebab itu Islamabad memilih sikap diam dalam menyikapi krisis di Teluk. “Pakistan harus sangat berhati-hati. Menurut pendapat saya, hanya ada satu opsi buat Pakistan, yakni bersikap netral,” kata pensiunan perwira tinggi angkatan darat, Jendral Shaukat Qadir.

Untuk diketahui, Qatar dituding telah mendukung atau mensponsori kegiatan terorisme, terutama mendanai jaringan Al Qaeda dan kelompok ekstrimis Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), serta Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Hal ini yang membuat sebagian besar negara-negara Teluk mengiktui langkah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Doha. Terbaru adalah Mauritania, negara di Afrika barat dan anggota Liga Arab, mengikuti langkah tujuh negara Arab lainnya, yakni memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Langkah itu dilakukan pada Selasa 6 Juni 2017 waktu setempat dengan menuduh Qatar telah “mendukung teroris”, demikian laporan kantor berita Mauritania.

Tindakan Qatar mendukung kegiatan terorisme dianggap telah mengakibatkan kerugian besar bagi kehidupan masyarakat di negara-negara Arab, di Eropa dan seluruh dunia. (Mlk)

article bottom ad