Home Niaga LSM Sebut 6 Bank Besar Biayai Perusakan Hutan di Indonesia

LSM Sebut 6 Bank Besar Biayai Perusakan Hutan di Indonesia

SHARE
article top ad

Jakarta, Mediabhayangkara.co.id – Rainforest Foundation Norway (RFN) dan Fair Finance Guide (FFG) melalui penelitiannya menemukan beberapa bank besar yang membiayai separuh pinjaman ke sektor kelapa sawit belum menerapkan kriteria pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance) ketika menyalurkan kredit.

RFN adalah sebuah organisasi non-pemerintah (Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM) yang bekerja untuk melindungi hutan hujan dunia dan menjamin hak-hak hukum penduduknya. Sedangkan Fair Finance Guide adalah jaringan masyarakat sipil yang bertujuan untuk memperkuat komitmen bank dan lembaga keuangan lainnya terhadap standar sosial, lingkungan dan hak asasi manusia.

article inline ad

Penelitian dua lembaga tersebut meninjau enam bank yang menyumbang sekitar 50 persen dari pinjaman untuk pengembangan kelapa sawit di Indonesia. Keenam bank tersebut yang berasal dari Indonesia, antara lain Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, dan bank-bank asal Singapura yakni OCBC dan DBS.

Pinjaman ke enam bank tersebut belakangan disebut terhubung dengan sembilan perusahaan minyak kelapa sawit yang menyebabkan penggundulan hutan, penghancuran lahan gambut, dan/atau pelanggaran hak asasi manusia. Pada beberapa kasus, aktifitas dari perusahaan-perusahaan minyak sawit tersebut bahkan disebut muncul dalam pelanggaran kebijakan, peraturan, dan undang-undang Indonesia.

Kesembilan perusahan besar minyak sawit tersebut yakni, Ganda, Tunas Baru Lampung, BEST Group, HPI Agro, Korindo, Sampoerna Agro, IndoAgri/Salim, Darmex Agro/Duta Palma dan Sawit Sumbermas Sarana.

“Para bank merupakan bagian utama dari permasalahan kelapa sawit karena mereka mendanai kerusakan dan ketidak etisan para perusahaan–perusahaan kelapa sawit,” kata Lorelou Desjardins dari Rainforest Foundation Norway melalui keterangan resmi, Jumat 2 Mei 2017.

Laporan tersebut mengungkap, empat bank terbesar di Indonesia (Mandiri, BRI, BNI and BCA ) menyumbang separuh dari seluruh pinjaman yang mendukung produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) di Indonesia, dengan jumlah pinjaman mencapai Rp 168 triliun.

Padahal, seluruh bank di Asia Tenggara sebelumnya telah membuat perjanjian untuk mengembangkan peraturan pinjaman yang berkelanjutan pada 2015 lalu sejak terjadinya kabut asap besar di Indonesia. Laporan dari hasil perjanjian tersebut menyatakan, belum ada peningkatan yang nyata semenjak program tersebut dibuat.

“Kami ingin bank – bank dari Indonesia dan Singapura meninggalkan kebiasaan-kebiasaan model lama. Bank-bank seharusnya lebih maju, menolak pemberian pinjaman ketika investasi-investasi seperti itu mengancam kehancuran lingkungan, perubahan iklim, dan pelanggaran hak asasi manusia,” tegas Rotua Nuraini, dari Fair Finance Guide Indonesia. (Mlk)

article bottom ad