Home General Kutuk Praktek Persekusi, MUI: ‘Tidak Dibenarkan Agama’

Kutuk Praktek Persekusi, MUI: ‘Tidak Dibenarkan Agama’

SHARE
article top ad

Jakarta, Mediabhayangkara.co.id – Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi menanggapi maraknya praktek persekusi atau main hakim sendiri yang terjadi belakangan ini, mengatakan hal tersebut tak dibenarkan oleh agama.

Baginya, persekusi merupakan tindakan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga untuk disakiti atau dipersulit hak-haknya.

article inline ad

” MUI berpendapat bahwa tindakan Persekusi yang dilakukan dengan cara tidak manusiawi, menimbulkan penderitaan baik fisik maupun psikis terhadap orang lain adalah bertentangan dengan hukum dan tidak dibenarkan oleh agama,” kata Zainut dalam keterangan tertulis, Jumat 2 Mei 2017.

Menurut dia, penertiban ujaran kebencian di media sosial harus dilakukan oleh aparat berwenang, bukan oleh massa.

MUI juga meminta kepada seluruh pihak, khususnya yang ingin menyebarkan dakwah, untuk melaksanakannya sesuai koridor hukum.

Aparat penegak hukum diminta bertindak cepat untuk menindak siapa pun yang melanggar hukum.

” MUI juga mengimbau kepada masyarakat luas untuk dapat memanfaatkan media sosial dengan cara yang lebih bertanggung jawab, menghindarkan diri dari ujaran kebencian, fitnah dan merendahkan pihak lain,” kata Zainut.

“Sehingga tidak menimbulkan ketersinggungan pihak lain yang dapat memicu konflik dan disintegrasi sosial,” lanjut dia.

Belakangan ini, di media sosial ramai menyebar ajakan tindakan Persekusi.

Ajakan persekusi biasanya diserukan terhadap sebuah postingan di media sosial yang menyinggung kelompok tertentu.

Salah satu korbannya adalah Fiera Lovita, seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Solok, Sumatera Barat, yang merasa tertekan setelah mengalami Persekusi berupa teror dan intimidasi oleh sekelompok orang dari ormas tertentu.

Fiera, yang akrab disapa Dokter Lola itu, mengalami tindakan Persekusi setelah menulis status di akun Facebook-nya yang bernada sindiran terhadap tokoh tertentu.

Terbaru, beredar video seorang anak bernama Mario yang menjadi korban persekusi oleh ormas tertentu di bilangan Jakarta Timur.

“Saya sudah dengar itu ada seorang anak bernama Mario yang diintimidasi oleh mereka ini,” ujar Ketua Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil dalam acara diskusi di Gedung Stovia, Senen, Jakarta Pusat, Kamis 1 Juni 2017.

Ia mengeaskan GP Ansor akan mendukung Mario untuk melaporkan tindakan kekerasan serta intimidasi ormas tersebut kepada kepolisian.

“Kami mendorong agar Mario ini melaporkan ke polisi tindak mereka ini,” ujar Yaqut.

Yaqut menegaskan, Mario dan siapapun anak bangsa tidak perlu takut melaporkan ormas yang melakukan persekusi.

“Tidak perlu takut. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Ingat negeri ini punya kita, bukan punya mereka,” ujar Yaqut. (Mlk)

article bottom ad