Home General Bentrok Militer Filipina dan ISIS di Marawi, 11 WNI dan Ribuan Penduduk...

Bentrok Militer Filipina dan ISIS di Marawi, 11 WNI dan Ribuan Penduduk Terjebak

SHARE
article top ad

Marawi, Mediabhayangkara.co.id – Bentrokan antara militer Filipina dan kelompok teroris jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Marawi masih berlanjut sampai hari ini, Senin 29 Mei 2017. Sejumlah laporan menyebutkan 11 warga negara Indonesia berada di daerah pertempuran itu.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menagatakan bisa saja 11 WNI itu pergi ke Filipina untuk ikut pelatihan dengan jaringan teroris. “Itu bahayanya kalau orang Indonesia ke Filipina,” kata Kalla di Jakarta, Minggu, 28 Mei 2017.

article inline ad

Kalla menegaskan, risiko apapun harus ditanggung oleh masing-masing orang.

Untuk diketahui, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer di pulau Mindanao menyusul baku tembak antara tentara dan kelompok bersenjata terafiliasi ISIS di Kota Marawi.

“Presiden meminta saya mengumumkan bahwa mulai pukul 22.00 waktu Manila, beliau sudah menyatakan status darurat militer di seluruh Pulau Mindanao,” kata Ernesto Abella, juru bicara Duterte, Rabu lalu, 24 Mei 2017.

Abella menyatakan, darurat militer ini akan berlangsung selama 60 hari. Abella menambahkan, status darurat itu mencakup seluruh wilayah Pulau Mindanao dan kepulauan di sekitarnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir menyatakan ada 11 warga Indonesia yang ada di Marawi. Sebanyak 10 WNI merupakan Jamaah Tabligh asal Bandung dan Jakarta yang sedang melakukan Khuruj (meninggalkan rumah untuk ibadah dan dakwah di masjid selama 40 hari).

“Satu orang lainnya adalah WNI yang menikah dengan orang setempat dan sudah lama tinggal di Marawi,” kata Arrmanatha. Menurut dia, selama ini WNI yang menikah itu menjalin kontak dengan Konsulat Jenderal RI di Davao.

Arrmanatha menyatakan hingga saat ini ke-11 WNI itu tidak mempunyai keterkaitan dengan kelompok Maute, ISIS atau kelompok teroris lain yang tengah berkonflik di Marawi. “Kesepuluh WNI dalam keadaan baik dan aman,” ucapnya.

Juru bicara Komite Manajemen Krisis Provinsi Marawi, Zia Alonto Adiong, mengatakan sekitar 2.000 penduduk mengungsi akibat pertempuran antara militer dan kelompok Maute yang berafiliasi dengan ISIS pecah.

Para pengungsi ini dikabarkan masih terjebak di dalam wilayah yang tengah dikuasai kelompok teroris.

“Mereka mengirimi kami pesan teks, menghubungi hotline kami, meminta kami untuk mengirim tim penyelamat, tapi kami tidak bisa pergi ke daerah yang tidak dapat diakses,” kata Adiong Minggu, 28 Mei 2017.

Adiong menuturkan, warga sipil tersebut dalam kondisi memprihatinkan lantaran kehabisan makanan. Mereka juga takut terkena serangan udara dari pihak militer. “Mereka ingin pergi,” ujarnya.

Juru bicara militer, Brigadir Jenderal Restituto Padilla, mengatakan pihaknya mulai mengintensifkan serangan di beberapa wilayah di Marawi sejak akhir pekan ini. “Semaksimal mungkin kami ingin menghindari kerusakan tambahan. Para pemberontak ini memaksa pemerintah bersembunyi dan bertahan di dalam rumah-rumah pribadi, gedung pemerintah dan fasilitas lainnya,” kata Padilla.

Sikap militan yang menolak menyerah membuat militer memutuskan untuk menggencarkan serangan udara. “Untuk membersihkan kota dan membawa pemberontak ini ke akhir mereka yang lebih cepat,” tuturnya.

Akibat pertempuran ini, sekitar seratus orang termasuk 19 warga sipil tewas dalam sepekan. Adu senjata meningkat setelah 8 warga sipil ditemukan tewas dan dibuang ke jurang. Menurut keterangan polisi, para korban itu merupakan tukang kayu yang coba melarikan diri.

Konflik bersenjata ini dimulai saat puluhan orang bersenjata mengamuk di seluruh Marawi sebagai tanggapan atas upaya pasukan pemerintah menangkap Isnilon Hapilon, seorang militan veteran Filipina yang dianggap sebagai pemimpin lokal ISIS. (Mlk)

article bottom ad