Home Nusantara Bejat, Sejak 2014, Pria Asal Tangerang Ini Cabuli 6 Anak-anak, Begini Modusnya

Bejat, Sejak 2014, Pria Asal Tangerang Ini Cabuli 6 Anak-anak, Begini Modusnya

SHARE
article top ad

Tangerang, Mediabhayankara.co.id – Sebanyak 6 anak perempuan warga Kelurahan Pakulonan Barat, Kec. Kelapa Dua, Kab. Tangerang menjadi korban tindakan pencabulan oknum berinisial KM (59).

Tersangka diketahui mencabuli korbannya sejak Desember 2014 hingga Januari 2017.

article inline ad

Petualangan bejad tersangka KM, terungkap setelah salah satu orang tua korban melapor ke pihak kepolisian.

Kapolres Tangsel AKBP Fadli Widiyanto menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan pihak kepolisian, tersangka saat melakukan aksi memanfaatkan rumahnya untuk mengajak anak – anak menonton film horor, seperti film “Nenek Gayung”.

Disaat anak – anak merasa ketakutan, tersangka langsung memeluk seolah olah memberikan perlindungan kepada mereka.

Lebih lanjut Kapolres menguraikan, saat korban dipeluk, tersangka mempergunakan kesempatan berbuat asusila dengan menjamah dan bahkan menodainya.

“Hal ini terjadi, karena anak itu merasa dilindungi dan belum mengetahui apa yang dialami, sehingga mereka tidak menceritakan kepada orang tua masing – masing,” ujar Fadli kepada Mediabhyangkara, Jumat 5 Mei 2017.

Menurut informasi yang diterima, sebenarnya ada 13 anak perempuan yang mengalami hal serupa. Tapi pihak kepolisian masih mendapatkan keterangan dari 6 anak perempuan.

“Dari ke enam anak perempuan itu, setelah dilakukan penyelidikan, satu anak mengalami kerusakan pada alat vitalnya dan lima orang lagi tidak rusak,” tutur Fadli.

Kapolres mengatakan tersangka dapat dijerat dengan pasal 81 dan dan Pasal 82 UU RI No.35/2014 atas perubahan UU RI no 23/2012 tentang perlindungan anak. Dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Penyidik Sat Reskrim Tangsel telah mendengar keterangan Ahli (Psikolog) dari UIN Ciputat, dan  mengambil keterangan para korban yang didampingi Pekerja Sosial Profesional Anak dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Menghindari kejadian tidak terulang kembali, Fadli menghimbau kepada para orang tua dan masyarakat untuk dapat menjaga buah hatinya dari efek negatif kemajuan digitalisasi informasi yang semakin maju. “Jika salah penempatan dapat menimbulkan kejadian yang merusak masa depan anak – anak sebagai generasi penerus,” tutupnya. (Lingga)

article bottom ad