Home Liputan Utama Lambannya Polisi Membongkar Kasus Penyerangan Novel Baswedan

Lambannya Polisi Membongkar Kasus Penyerangan Novel Baswedan

SHARE
article top ad

Jakarta, Mediabhayangkara.co.id – Tiga pekan telah berlalu setelah aksi teror pada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan. Namun polisi belum menetapkan satupun tersangka. “Menemukan titik terang” pernyataan Wakapolri adalah hal paling maju yang bisa dipaparkan kepolisian terkait proses penyidikan kasus ini.

Padahal untuk mengungkap perkara Novel, Polri telah membentuk tim khusus. Namun penanganannya masih diserahkan di Polres Jakarta Utara. Penyidik Polda Metro Jaya dan Markas Besar Polri hanya memberikan bantuan.

article inline ad

Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mempertanyakan lambannya pengungkapan kasus ini. Ia membandingkan dengan pengungkapan kasus terorisme yang justru bisa cepat.

Lambannya Polri dalam kasus ini dinilai Bambang bisa mempengaruhi kepercayaan publik.

“Kalau untuk mengungkap kasus terorisme saja cepat, mengapa dalam kasus Novel tidak bisa cepat? Ini memang bukan masalah waktu saja. Tetapi, semakin cepat berarti polisi semakin meningkatkan public trust,” kata Bambang kepada seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu 3 Mei 2017.

Bambang berharap polisi bisa lebih serius dalam menangani kasus Novel ini. Jika memang Polres Jakarta Utara tidak mampu menangani kasus ini, ada baiknya ditarik ke Polda Metro Jaya atau ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.

“Polisi punya perangkat, ada Detasemen Khusus 88 Antiteror, ada intelijen keamanan, ada Bareskrim. Kalau masih kurang, bisa minta bantuan aparat yg lain. Kalau serius ya ditarik ke Bareskrim,” ujarnya.

Sebelumnya Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Syafruddin menyatakan penyidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel, mulai menemukan titik terang.

Dia mengatakan, penyidik Polres Jakarta Utara dibantu Polda Metro Jaya dan Bareskirm Polri tengah melakukan investigasi dan segera mengungkap hasil penyidikan kasus Novel.

“Sudah ada titik terang. Saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa investigasi, selidiki, ungkap secepatnya,” kata Syafruddin.

Namun, saat ditanya lebih detail perihal titik terang yang ia maksud dalam perkembangan penyidikan kasus Novel, mantan Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri itu menolak menjelaskan.

Menurutnya, wewenang menerangkan perkembangan penyidikan kasus tersebut ada di tangan Polda Metro Jaya.

Polisi mengklaim telah melakukan olah tempat kejadian perkara empat kali. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan mengatakan, olah TKP dilakukan untuk mengumpulkan alat bukti. Selain itu, penyidik juga ingin mencari tahu bagaimana situasi dan sosok orang-orang yang kerap berada di sekitar TKP.

Bahkan, menurutnya, polisi sampai melakukan salat subuh di Masjid Al-Ikhsan, masjid yang biasa digunakan Novel untuk menunaikan salat subuh. Iriawan mengatakan, langkah ini dilakukan guna menganalisis kejanggalan-kejanggalan sebelum aksi teror menyerang Novel.

“Sehingga kami tahu, saat itu ada berapa orang di masjid. Apakah ada orang luar yang salat di sana atau tak seperti lazimnya,” kata Iriawan.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, penyidik telah meminta keterangan dari 19 orang yang diduga mengetahui insiden serangan teror terhadap Novel Baswedan.

Mayoritas saksi yang diperiksa merupakan warga di sekitar tempat tinggal Novel. “Sudah ada 19 orang sampai sekarang (yang dimintai keterangan). (Mereka) dari lingkungan situ, jadi kan ada yang memeriksa yang ada di sekitar masjid, sekitar rumah, di sekitaran masuk gang rumahnya korban,” kata Argo.

Sementara itu, kondisi terakhir kesehatan terutama mata Novel dilaporkan semkain mebaik meski masih menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Singapura.

Berbagai tindakan dilakukan dokter untuk menyembuhkan mata Novel. “Untuk mata sebelah kiri mulai tampak kornea hitam hidup tapi lambat. Dikarenakan pada mata kiri supply darah dan oksigen baru mulai ada,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Rabu.

Febri mengungkapkan, penumpukan kalsium pada selaput mata sebelah kiri sudah mulai berkurang akibat penggunaan obat. Dokter setempat pun mulai mengurangi penggunaan beberapa jenis obat terhadap Novel.

“Menurut dokter diperlukan kesabaran dan waktu untuk pemulihan terutama untuk mata kiri. Juga diperhatikan keseimbangan pemberian obat untuk pemulihan dengan efek samping yang ditimbulkan dari obat itu sendiri,” tutur Febri.

Novel Baswedan mengalami luka di bagian mata akibat diserang oleh dua orang tak dikenal seusai menjalankan salat subuh di masjid dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara pada 11 April lalu.

Setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Media Mitra Keluarga dan Jakarta Eye Center, penyidik yang sering membongkar kasus besar itu akhirnya dibawa ke Singapura. Novel telah menjalani perawatan selama 20 hari. (Mlk)

article bottom ad