Home Liputan Utama Manusia Tertua Asal Sragen Meninggal Dunia, Didoakan Secara Islam dan Kristen

Manusia Tertua Asal Sragen Meninggal Dunia, Didoakan Secara Islam dan Kristen

SHARE
article top ad

Sragen, Mediabhayangkara.co.id – Manusia tertua di dunia, Mbah Gotho dilaporkan meninggal dunia di rumahnya pada Minggu, 30 Mei 2017, pada pukul 17.45 WIB. Pria bernama asli Sodimejo itu lahir pada 31 Desember 1870, dan tercatat sebagai warga RT 18 RW 06 Dukuh Segeran, Cemeng, Kecamatan Sambung Macan, Sragen, Jawa Tengah.

Ratusan orang melayat, termasuk sanak saudara, tetangga, dan warga dari luar daerah. Wakil Bupati Sragen Dedy Edriyatno juga hadir untuk ikut berbelasungkawa. Mbah Gotho dimakamkan di Dukuh Tanggung, Desa Plumbon, Kecamatan Sambung Macan, atau sekitar 300 meter dari rumahnya.

article inline ad

Salah satu cucu Mbah Gotho, Suryanto, 47 tahun, mengatakan kakeknya meninggal di usia 146 tahun. Ia mengatakan kakeknya berumur panjang berkat menjalani hidup sederhana dan pola makan yang tidak mempunyai pantangan. Menu makan yang disenangi, tuturnya, adalah sayur berkuah, sambal, dan tempe goreng.

“Makanannya itu, minumannya teh manis yang paling disukai Mbah Gotho. Beliau seusia itu masih mau makan sate kambing dan tidak ada masalah,” kata Suryanto.

Mbah Gotho sempat dibawa ke rumah sakit karena mengalami gangguan pada lambung pada 12 April 2017. Mbah Gotho dirawat di rumah sakit selama enam hari dan marah-marah minta pulang. Selama di rumah sakit, Mbah Gotho diberikan transfusi darah sebanyak tiga kantong.

“Beliau meninggal dunia karena kondisinya melemah, tidak mau makan karena perutnya merasakan kenyang dan tidak mau merepotkan orang lain,” kata Suryanto setelah mengantar jenazah kakeknya ke pemakaman. “Mbah Gotho orangnya penyayang anak-anak dan cucu-cucu. Apa yang dimiliki, jika diminta oleh anak dan cucu, pasti diberikan.”

Menurut Suryanto, saat sakit, Mbah Gotho pernah mengatakan, jika suatu saat dipanggil Tuhan, anak dan cucu diminta mengikhlaskan.

Cucu Mbah Gotho dari istri keempat itu juga menuturkan sang kakek meninggalkan sejumlah pesan sebelum meninggal dunia. Berikut pesan Mbah Gotho.

1. Dimakamkan dengan tata cara Kristen

Menurut Suryanto, Mbah Gotho menyampaikan keinginannya dimakamkan dengan tata cara Kristen, meski sejumlah keluarganya beragama Islam. “Sebelum meninggal, Simbah berpesan agar dimakamkan dengan tata cara agama Kristen,” kata dia.

Untuk persiapan pemakaman, Mbah Gotho bahkan telah menyiapkan seperangkat pakaian dan juga sepatu untuk dipakai saat meninggal. Bahkan, dia juga telah membeli kayu untuk peti matinya. Namun kayu yang dipesan itu belum sempat dibuat peti, sehingga peti yang digunakan bukan dari kayu yang disiapkan.

2. Nisannya langsung dipasang

Sebelum meninggal, Mbah Gotho berwasiat agar nisan atas namanya yang sudah dipesan sejak 1992 langsung dipasang di atas makamnya. Padahal, biasanya nisan baru dipasang pada 1000 hari kematiannya.

Mbah Gotho memesan nisan itu setelah anak kedua dari istri keempatnya, atau ibu Suryanto, Sukirah, meninggal di usia 60 tahun.

Suryanto mengatakan pihak keluarga tetap mendoakan arwah Mbah Gotho sesuai dengan tuntutan agama Islam meski kakeknya beragama Kristen. Namun ia mempersilakan pihak gereja menggelar doa untuk kakeknya di rumahnya.

“Simbah memang beragama Kristen, tapi ibu kami (Sukirah) beragama Islam,” ujar Suryanto, Senin, 1 Mei 2017.

Menurut Suryanto, pihak gereja yang turut mendoakan Mbah Gotho sebelum pemakaman sudah meminta izin untuk menggelar doa bersama untuk kakeknya di rumahnya. “Kami persilakan. Toh, semua doa tujuannya baik, demi keselamatan arwah Simbah,” ucapnya. (Mlk)

article bottom ad