Home General Ulama Perempuan Disebut Tampilkan Islam yang Peka, Lembut, dan Berkeadilan

Ulama Perempuan Disebut Tampilkan Islam yang Peka, Lembut, dan Berkeadilan

SHARE
article top ad

Cirebon, Mediabhayangkara.co.id – Ulama perempuan menggelar Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Cirebon, Jawa Barat, 25-27 April 2017. Sebanyak kurang lebih 500 ulama perempuan hadir di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin, Cirebon, selama kongres berlangsung.

Dalam salah satu seminar nasional bertajuk ‘Peran Ulama Perempuan Dalam Meneguhkan Nilai Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan’, Rabu, 26 April 2017, dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, Jakarta, Nur Rofiah Bil Uzm mengatakan Al Quran dan hadis sudah memuliakan perempuan.

article inline ad

Namun metodologi studi Islam yang selama ini dominan, belum sepenuhnya memberi keadilan bagi kaum perempuan. Penyebabnya, kata dia, adanya bias tafsir keagamaan yang hegemonik dan patriarkis. Akibatnya, teks-teks orisinal keagamaan Islam yang termuat dalam Al Quran dan hadis mengalami reduksi sistematis dan berkelanjutan.

“Ini yang akhirnya dianggap sebagai kebenaran absolut,” kata Nur Rofiah. Ia menyebut laki-laki maupun perempuan sama-sama pemimpin (khilafah) di muka bumi.

Nur Rofiah juga memperkenalkan metode baru studi Islam yang lebih berkeadilan pada perempuan, yakni memastikan kombinasi iman dan prinsip kesetaraan harus menjadi landasan studi-studi Islam, sehingga menghasilkan keadilan.

Keadilan itu atas dasar kesetaraan substantif yang mempertimbangkan hakekat perempuan dengan kondisi khusus mereka secara biologis dan sosial. Nur Rofiah menuturkan, secara biologis karena organ, fungsi dan masa reproduksinya. Sedangkan secara sosial karena ketimpangan relasi dengan laki-laki yang menyejarah selama berabad-abad.

Ditempat yang sama, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Machasin, mengungkapkan keikutsertaan ulama perempuan dalam ruang publik yang telanjur didominasi laki-laki, tidak berarti ulama perempuan tersebut mesti bersaing.

“Namun mengisi apa yang belum terisi, meluruskan yang menyimpang dan memberikan kelembutan, cinta, keteguhan, ketahanan, kecermatan dan keindahan pada ajaran dan praktek-praktek agama yang selama ini mengedepankan hal yang dianggap macho,” katanya.

Machasin melanjutkan, setidaknya ada tiga kekuatan ulama perempuan yang jarang, bahkan tidak dimiliki oleh ulama laki-laki. Antara lain, ilmu agama yang peka terhadap adanya ketidakadilan dan penindasan, kelembutan, serta kepemimpinan yang melindungi dan mencintai umat. (Mlk)

article bottom ad