Home Nusantara Anak Gajah Ini Tunggui Bangkai Ibunya Diduga Mati Diracun

Anak Gajah Ini Tunggui Bangkai Ibunya Diduga Mati Diracun

SHARE
article top ad

Langkat, Mediabhayangkara.co.id – Seekor gajah betina berusia sekitar 15 tahun ditemukan mati, di areal perkebunan sawit PT Perkebunan Inti Sawit Subur (PISS) di Dusun Pancasila, Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.  Gajah itu meninggalkan seekor anak, yang saat ditemukan sedang menunggu di dekat tubuh induknya.

“Saat ini petugas sudah di lapangan dan akan menyelamatkan anak gajah,” kata Sapto Aji Prabowo, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh kepada wartawan, Jumat sore, 21 April 2017.

article inline ad

Pihaknya mendapatkan laporan gajah mati dari warga di sekitar lokasi, pada Rabu. Pihak BKSDA bersama Muspika dan Dinas Kehutanan Gayo Lues kemudian menuju lokasi.

Saat ditemukan, gajah sudah mati di pinggir sungai, sementara anaknya yang berumur sekitar tiga tahun berada di samping induknya. “Kemungkinan, gajah ini tewas karena makan racun,” kata Sapto.

Tim dokter hewan, kata Sapto, bergerak ke lokasi untuk menyelamatkan anak gajah, sekaligus memastikan penyebab kematian gajah betina itu.

BBKSDA Aceh serius mengusut sebab kematian gajah betina tersebut di lokasi yang berjarak sekitar 1 kilometer dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser itu. “Laporan masyarakat ke petugas keamanan, gajah yang mati itu ditemukan pada Selasa, 18 April 2017,” kata Kepala BBKSDA Sumut Hotmauli Sianturi, Jumat, 21 April 2017.

Laporan itu diteruskan ke Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation, mitra BBKSDA. “Petugas Veterinary Society kemudian meneruskan informasi itu ke Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat dan langsung kami cek ke lapangan,” kata Hotmauli saat memaparkan kepada pers kematian gajah sumatera itu di Medan.

Dugaan sementara setelah dilakukan otopsi, ditemukan luka di lambung dan usus gajah seperti terkena racun. “Letak bangkai gajah ditemukan di alur sungai menguatkan dugaan itu. Sebab gajah yang terkena racun berusaha minum air untuk menetralisir racun di tubuhnya,” ujar Hotmauli.

Menurutnya, konflik gajah dengan manusia di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, akan terus terulang jika pemerintah tidak menghentikan segera pemanfaatan hutan produksi terbatas menjadi perkebunan sawit.

Sebab, ujarnya, pada musim atau siklus tertentu gajah akan melintasi daerah perkebunan yang sebenarnya merupakan buffer zone atau zona penyangga ekosistim hutan.

Sudah saatnya, ujar Hotmauli, Pemerintah Kabupaten Langkat menindak tegas dengan mencabut izin hak guna usaha perkebunan sawit yang berada di wilayah hutan produksi terbatas Kawasan Leuser. “Sepanjang pemerintah tidak mencabut izin HGU perkebunan di kawasan hutan, sepanjang itu pula gajah sumatera dan hewan lainnya akan mati sia-sia di sana,” ujarnya.

Dilansir dari Tempo, Sabtu, 22 April 2017, Bupati Langkat Ngogesa Sitepu yang ingin dikonfirmasi izin pengalihan hutan produksi terbatas menjadi lahan kebun sawit, tidak bisa dihubungi. Begitu juga pesan singkat yang dilayangkan belum dijawab. (Mlk)

article bottom ad