Home Siswa Kemenristek : Dosen di Indonesia Malas Lakukan Penelitian

Kemenristek : Dosen di Indonesia Malas Lakukan Penelitian

SHARE
article top ad

Jakarta, Mediabhayangkara.co.id – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengeluhkan banyak dosen hingga profesor di Indonesia yang malas melakukan penelitian. Hal itu terlihat dari minimnya jumlah jurnal ilmiah yang dikeluarkan universitas di Indonesia.

“Indonesia jauh tertinggal dari negara lain. Jangankan oleh dunia. Di ASEAN (Asia Tenggara) saja tertinggal,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenristekdikti Ali Gufron Mukti di Gedung Rumpun Ilmu Kesehatan UI Depok, Kamis, 20 April 2017.

article inline ad

Jurnal ilmiah internasional universitas di Inonesia yang dipublikasi, tuturnya, baru 5.499. Negara tetangga Malaysia saja sudah mencapai 25.350 jurnal ilmiah. Bahkan, universitas di Singapura telah membuat 17.200 jurnal ilmiah dan Thailand 12.000 jurnal ilmiah yang dipublikasi secara internasional.

“Malaysia lebih banyak dari Singapura jurnal ilmiahnya, karena dosennya lebih banyak. Tapi, kenapa Indonesia yang dosennya jauh lebih banyak dari Malaysia, apalagi Singapura, hasilnya sedikit,” ucapnya.

Karenanya, untuk mendongkrak kuantitas dan kualitas jurnal ilmiah, Kemenristekdikti mengeluarkan Peraturan Menristekdikti nomor 20 tahun 2017 tentang penelitian. Aturan mewajibkan setiap profesor dan rektor kepala menulis jurnal ilmiah yang bisa dipublikasi internasional.

“Tujuannya bukan untuk menang-menangan atau untuk ranking-rankingan, bahwa Indonesia mempunyai potensi besar tapi belum diekplorasi,” ucapnya. “Dan selama ini banyak dosen yang dalam tanda kutip masih tidur, belum bangun, untuk meneliti dan menulis.”

Menurutnya, selama ini para dosen malas melakukan penelitian, dan mereka lebih banyak mau mengajar saja. Dengan dikeluarkan Permenristekdikti tersebut, diharapkan dapat mendorong admosfer akademik dan iklim ilmiah di universitas.

Ali Gufron menilai, penelitian di bidang kesehatan yang harus menjadi prioritas. Musababnya, alat kesehatan yang digunakan Indonesia 95 persen masih impor. Dengan adanya penelitian diharapkan banyak alat kesehatan yang bisa dipakai sendiri.

“Kalau produksi sendiri biaya bisa lebih murah. Kemudian bisa berkontribusi untuk negara dan kalau bisa diekspor,” ucapnya.

Hal senada ditegaskan Wakil Dekan Bidang Akademik, Penelitian dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Pratiwi Sudarmono, yang mengatakan peneliti merupakan nyawa suatu negara. “Semua yang dihasilkan di bidang apapun hasil dari penelitian peneliti,” katanya.

Mulai tahun ini, pihaknya menerapkan aturan agar setiap dosen di FKUI melakukan penelitian. Tujuannya, agar karya ilmiah dan penemuan di bidang kesehatan semakin banyak ditemukan. “Dosen sekarang sudah diwajibkan untuk melakukan penelitian dan membuat jurnal ilmiah baik nasional maupun yang internasional,” ujarnya. (Mlk)

article bottom ad